Budaya Di Kamboja (Artikel Lengkap)

 agama menjadi sumber pandangan gres utama bagi kebudayaan di  Budaya di Kamboja (Artikel Lengkap)Kamboja. Hampir selama dua milenium, Kamboja menyebarkan kepercayaan Khmer yang merupakan adonan antara kepercayaan animisme, agama Buddha, dan agama Hindu. Kultur dari India—termasuk bahasa dan kesenian—dibawa oleh orang India ke Asia Tenggara sekitar masa pertama masehi. Saat ini, budaya di Kamboja dipromosikan dan dikelola oleh Kementerian Kebudayan dan Kesenian Kamboja.

1. Sejarah Kebudayaan Kamboja

Masa keemasan Kamboja ialah antara masa ke-9 dan ke-14 masehi dibawah periode kerajaan Angkor, dimana pada ketika itu merupakan kerajaan yang berpengaruh dan sejahtera yang berhasil menguasai hampir seluruh wilayah daratan Asia Tenggara. Namun, kerajaan Angkor runtuh tanggapan kudeta dan perang melawan kerajaan yang berada di dekatnya ibarat Siam dan Dai Viet. Banyak candi yang dibangun pada masa itu ibarat Bayon dan Angkor Wat masih ada hingga sekarang. Candi-candi tersebut tersebar di Thailand, Kamboja, Laos, dan Vietnam yang mengingatkan kita kepada kemegahan seni dan budaya Khmer. Seni, arsitektur, musik, dan tarian yang ada di Kamboja kini telah mendapat banyak dampak dari banyak kerajaan lain ibarat Thailand dan Laos. Efek dari kultur Angkor masih sanggup dilihat hingga kini di beberapa negara, kultur tersebut mempunyai banyak kedekatan dengan Kamboja sekarang.

2. Arsitektur dan Rumah di Kamboja

Arsitek dan pemahat Kamboja menciptakan candi yang terbuat dari batu. Dekorasi Khmer terinspirasi dari agama. Dewa-dewa dari agama Hindu dan Buddha terukir pada tembok. Candi/kuil dibentuk sesuai dengan hukum arsitektur Khmer Kuno yang terdiri dari susunan candi biasa ditambah dengan satu candi yang tampak mencolok ditengahnya, sebuah tembok, dan sebuah parit. Motif Khmer menggunakan banyak yang kuasa dari mitologi Buddha dan Hindu. Contohnya ibarat istana kerajaan di Phnom Penh yang menggunakan motif garuda yang merupakan burung mitologi dalam agama Hindu. Hanya sedikit bangunan yang tersisa semenjak masa kerajaan Khmer. Yang tersisa hanyalah bangunan religius yang terbuat dari watu ibarat candi Angkor.

Dalam kebudayaan modern Kamboja, sebuah keluarga biasanya tinggal di bangunan berbentuk petak dengan ukuran bervariasi mulai dari 4 X 6 meter hingga 6 X 10 meter. Bangunan tersebut terbuat dari bambu. Rumah Khmer biasanya berpanggung dengan ketinggian tiga meter diatas permukaan tanah untuk melindungi isi rumah dari banjir. Tangganya terbuat dari kayu. Sebuah rumah biasanya terdiri dari tiga ruangan yang dibatasi oleh bambu. Ruangan depan dijadikan ruang tamu, ruangan kedua dijadikan kamar tidur orangtua, dan ruangan ketiga dijadikan kamar tidur bagi putrinya yang belum menikah. Anak laki-laki tidur dimanapun mereka mendapat tempat. Anggota keluarga bersama tetangga gotong royong membangun rumah, serta diadakan suatu upacara bagi rumah yang gres selesai dibangun. Rumah bagi keluarga yang kurang bisa biasanya hanya terdiri dari satu ruangan besar. Dapur biasanya terletak di belakang rumah. Kamar mandi biasanya berada di sungai yang ditutupi oleh triplek. Kandang ternak biasanya dibentuk dibawah rumah. Rumah orang Tionghoa dan Vietnam di kota maupun desa di Kamboja biasanya tidak berpanggung dan berlantai semen atau keramik. Rumah kaum urban dan bangunan komersial biasanya terbuat dari watu bata, beton, atau kayu.

3. Agama di Kamboja

Penduduk di Kamboja didominasi oleh penganut agama Buddha dengan 90% populasi menganut Buddha Theravada. Terdapat 1% populasi pemeluk agama Nasrani dan sisanya beragama Islam, atheis, atau penganut kepercayaan animisme.

Agama Buddha telah ada di Kamboja semenjak masa ke-5 masehi. Buddha Theravada telah ada di Kamboja semenjak masa ke-13 masehi dan kini telah dianut oleh 90% populasi di Kamboja.

Islam ialah agama yang secara umum dikuasai dianut oleh kaum Cham (disebut juga Khmer Islam) dan minoritas kaum Melayu di Kamboja. Berdasarkan data dari Po Dharma, terdapat 150.000 hingga 200.000 penduduk Muslim di Kamboja pada tahun 1975. Semuanya menganut aliran Sunni.

Kristen dibawa ke Kamboja oleh misionaris Katholik Roma pada tahun 1660. Pada tahun 1972, terdapat sekitar 20.000 kaum Kristiani di Kamboja, kebanyakan dari mereka ialah Katholik Roma. Berdasarkan statistik dari Vatikan, pada tahun 1953, anggota Gereja Katholik Roma di Kamboja berjumlah 120.000. Hal itu membuatnya menjadi agama terbesar kedua di negara ini. 50.000 diantaranya ialah orang Vietnam dan sisanya kebanyakan orang Eropa. Berdasarkan sensus tahun 1962, terdapat 2.000 pemeluk agama Nasrani Protestan di Kamboja. Terdapat sekitar 20.000 pemeluk agama Nasrani Katholik di Kamboja dimana hanya 0,15% dari total populasi.

Terdapat 100.000 orang yang menganut aliran kepercayaan daerah. Seperti kaum Khmer Loeu yang menganut animisme. Mereka menggunakan nasi, air, api, batu, dll untuk melangsungkan ritual. Kaum ini biasanya menganggap tabu beberapa objek dan praktek.

4. Kehidupan di Kamboja

4.1. Ritual Kelahiran dan Kematian di Kamboja

Kelahiran bayi ialah ketika yang membahagiakan bagi keluarga. Berdasarkan kepercayaan tradisional, mereka (ibu dan bayi) akan dikurung alasannya mereka sangat rentan terhadap dunia mistik. Seorang ibu yang meninggal ketika melahirkan bayinya dipercaya akan menjadi roh yang jahat. Dalam masyarakat Khmer tradisional, perempuan hamil dianggap tabu memakan beberapa makanan dan harus menghindari beberapa situasi. Tradisi ini masih berlangsung di pedesaan, namun mulai berkurang di tempat perkotaan.

Kematian tidak dilihat dengan penuh kesedihan disini; tetapi dilihat sebagai simpulan dari sebuah hidup dan merupakan awal dari kehidupan selanjutnya yang dibutuhkan akan lebih baik dari sebelumnya. Kaum Khmer Buddha biasanya membakar dan debunya disimpan di dalam sebuah stupa di dalam candi. Bendera panji putih dikibarkan—yang disebut “bendera buaya putih”—di luar rumah, yang membuktikan ada seseorang di dalam rumah tersebut yang telah meninggal. Prosesi pemakaman dihadiri oleh biksu Buddha, anggota keluarga, dan kerabat yang berduka. Suami/istri dan anaknya yang ditinggalkan berduka dengan cara mencukur kepalanya dan mengenakan pakaian putih.

4.2. Masa Kecil dan Masa Remaja di Kamboja

Anak kecil di Kamboja dirawat hingga usia dua atau empat tahun. Sampai usia tiga atau empat tahun, anak diberi kasih sayang dan kebebasan. Permainan belum dewasa lebih menekankan pada sosialisasi atau kemampuan ketimbang menang atau kalah.

Kebanyakan anak mulai bersekolah pada usia tujuh atau delapan. Ketika ia mencapai usia ini, mereka harus mengetahui norma kesopanan, kepatuhan, dan hormat kepada yang lebih renta dan kepada biarawan Buddha (biksu). Ayahnya bertugas untuk mengontrol anaknya dan memperlihatkan izin kepada anaknya. Saat usia sepuluh tahun, anak perempuan membantu ibunya untuk mengerjakan beberapa pekerjaan rumah tangga; sedangkan anak laki-laki tahu bagaimana menjaga ternak mereka dan bisa berladang bersama laki-laki lain yang lebih tua.

Para dewasa biasanya bermain dengan temannya yang sesama jenis kelamin. Selama masa remajanya, laki-laki biasanya menjadi pelayan di Wihara dan menjadi calon biarawan, dimana hal itu merupakan suatu kehormatan besar untuk orangtuanya. Orangtua mempunyai wewenang penuh terhadap anaknya hingga mereka menikah, dan orangtuanya tetap mengendalikan beberapa kontrol ketika pernikahan.

4.3. Pacaran, Perkawinan, dan Perceraian di Kamboja

Memilih sahabat hidup ialah hal yang kompleks bagi laki-laki muda, dan itu mungkin melibatkan tidak hanya orangtuanya dan temannya, tetapi juga “mak comblang” dan Haora. Secara teori, perempuan sanggup menolak pasangan yang dipilih orangtuanya. Pola pacaran berbeda antara orang Khmer di desa dan di kota; cinta yang romantis merupakan kebiasaan yang ada di kebanyakan kota-kota besar. Laki-laki biasanya menikah antara usia 19 hingga 25 tahun, sedangkan perempuan antara 16 hingga 22 tahun. Setelah pasangan dipilih, masing-masing keluarga saling menilik satu sama lain untuk meyakinkan bahwa anaknya akan menikah bersama pasangan yang mempunyai keluarga yang baik. Di pedesaan, terdapat bentuk jasa pengantin wanita; artinya, laki-laki muda bersumpah akan melayani ayah tirinya dalam jangka beberapa waktu.

Pernikahan tradisional ialah perayaan yang panjang dan berwarna. Dulunya, itu berlangsung tiga hari, tetapi pada tahun 1980-an itu berlangsung selama satu hari atau setengah hari. Pendeta Buddha melaksanakan upacara singkat dan mengucapkan beberapa doa. Bagian dari perayaan ini melibatkan ritual memotong rambut, mengikatkan kapas yang sudah dicelupkan ke dalam air suci pada pergelangan tangan pengantin laki-laki dan wanita, dan melewati lilin yang ada di sekitar pasangan yang telah menikah serta memberkati pasangan tersebut sebagai satu kesatuan. Setelah pernikahan, dilakukan program jamuan makan. Pasangan yang gres menikah secara tradisional akan tinggal bersama keluarga istri dan mungkin akan tinggal bersama mereka selama setahun, hingga mereka sanggup membangun rumah baru.

Perceraian ialah legal dan relatif gampang untuk dilakukan, namun hal ini tidak umum dilakukan. Orang yang bercerai akan dilihat dengan beberapa ketidaksenangan. Masing-masing pasangan akan mempertahankan properti yang ia beli ketika pernikahan, dan kepemilikannya akan dibagi menjadi dua. Hak asuh anak biasanya akan diberikan kepada ibunya, dan kedua keluarganya tetap menyumbang sejumlah uang untuk melanjutkan pendidikan anaknya. Pria yang telah bercerai ia mempunyai masa menunggu hingga ia sanggup menikah kembali.

Pada kenyataannya, hingga kini secara umum dikuasai orang Kamboja yang telah menikah tidak mempunyai sertifikat komitmen nikah yang legal. Walaupun pasangan tersebut telah menyelenggarakan upacara dan pesta pernikahan. Tetapi mereka dianggap tidak menikah secara legal. Begitu juga ketika bercerai, mereka biasanya tidak memerlukan surat somasi cerai.

5. Pakaian di Kamboja

Pakaian di Kamboja ialah salah satu aspek penting dari budaya di Kamboja. Mode orang Kamboja berbeda-beda tergantung pada suku etnis dan status sosial. Orang Khmer secara tradisional mengenakan syal kotak-kotak yang disebut Krama. “Krama” membedakan orang-orang Khmer (Kamboja) dengan tetangganya ibarat orang Thai, orang Vietnam, dan orang Laos. Syal tersebut dipakai untuk bermacam-macam fungsi ibarat gaya, melindungi dari matahari, dan sebagai pelindung (untuk kaki) ketika mendaki pohon, membantu menggendong bayi, sebagai handuk, atau sebagai sarung. Krama sanggup dengan gampang diubah menjadi boneka untuk dimainkan anak-anak.

Kain tradisional yang dikenal sebagai Sampot, ialah sebuah kostum yang terkena dampak dari India pada era Funan. Pakaian Khmer telah berubah seiring dengan waktu dan agama. Pada masa transisi dari era Funan ke era Angkor, terdapat dampak Hindu yang berpengaruh pada pakaian di Kamboja dimana orang-orang menyukai Sampot termasuk Sarong Kor (perhiasan) yang merupakan simbol agama Hindu.

Ketika agama Buddha menggantikan agama Hindu, orang-orang Khmer mulai mengenakan blus, kemeja, dan celana. Tentunya sesuai gaya Khmer. Orang Khmer, termasuk rakyat dan keluarga kerajaan, berhenti menggunakan kerah bergaya Hindu dan mulai mengadopsi syal yang telah diberi dekorasi. Style ini terkenal pada periode Udong.

Perempuan Khmer biasa menentukan warna yang pas untuk Sampot-nya menurut hati nurainya sendir atau mengikuti ekspresi dominan yang ada.

Beberapa orang Kamboja selalu menggunakan pakaian bergaya religius. Beberapa laki-laki dan perempuan Khmer mengenakan bandul Buddha pada kalungnya. Fungsinya ialah untuk menjaga dari roh jahat dan membawa keberuntungan.

Keluarga kerajaan biasa mengenakan pakaian yang mahal. Sampot masih dipakai dikalangan kerajaan. Kebanyakan mereka menentukan Sampot Phamuong, edisi gres dari sampot yang dipakai oleh orang Thai pada masa ke-17. Sejak periode Udong, keluarga kerajaan mempertahankan kebiasaan mereka dalam berpakaian. Mereka yang perempuan menciptakan pakaian yang sangat atraktif. Para perempuan selalu mengenakan epilog pundak tradisional yang disebut sbai atau rabai kanorng.

Para penari mengenakan kerah yang disebut Sarong Kor di sekitar lehernya. Yang terpenting, mereka mengenakan gaun unik yang disebut Samprot sara-bhap yang terbuat dari kain sutra yang dijahit dengan menggunakan benang emas atau perak. Gaun tersebut mengkilap, dengan desain yang rumit, dan berkelip-kelip ketika penari tersebut bergerak. Penari juga menggunakan sabuk yang diisi watu mulia. Banyak embel-embel yang dipakai oleh penari wanita. Seperti anting-anting, sepasang gelang, hiasan pada mata kaki, dll.

6. Kuliner di Kamboja

Kuliner Khmer ibarat dengan masakan di negara-negara Asia Tenggara lainnya terutama masakan Thailand, Vietnam, dan Kamboja yakni menggunakan saos ikan pada sup dan tumisan. Makanan yang terkenal dampak dari Tiongkok ibarat chha (Bahasa Khmer: tumisan) dan bermacam-macam jenis nasi goreng. Makanan Tiongkok yang paling terkenal ialah “sup mie dengan nasi dan daging babi”, ibarat dengan phở, disebut kuy tieu. Hidangan yang mendapat dampak dari India kebanyakan menggunakan materi kari. Banh chaew, masakan Vietnam Bánh xèo versi Khmer, juga merupakan hidangan yang populer.

Kuliner Khmer terkenal akan penggunakan pharok-nya. Pharok ialah sejenis pasta ikan yang telah dipermentasi. Jika Pharok tidak digunakan, maka kapi dapat digunakan. Kapi ialah sejenis pasta udang terfermentasi. Santan ialah materi baku dari aneka macam jenis kari dan hidangan pencuci lisan Khmer. Orang Kamboja biasanya menggunakan nasi dengan melati atau ketan. Hidangan epilog biasanya menggunakan buah ibarat durian. Hampir semua makanan dimakan bersama semangkuk nasi. Cabai dipisahkan dari makanan supaya sanggup diisi sesuai selera.

7. Seni dan Sastra di Kamboja

7.1. Seni Rupa di Kamboja

Sejarah seni rupa di Kamboja sanggup dilihat dari jaman kuno. Seni di Kamboja mencapai puncaknya ketika periode Angkor. Seni dan kerajinan tradisional Kamboja sanggup berupa tekstil, tenunan, kerajinan perak, pahatan batu, keramik, lukisan, dan layang-layang. Pada pertengahan masa ke-20, seni modern muncul di Kamboja. Seniman mendapat santunan dari pemerintah dan wisatawan.

7.2. Musik di Kamboja

Antara tahun 60-70an, penyanyi duet Sinn Sisamouth dan Ros Serey Sothea mendapat banyak hit di negara ini. Setelah mereka meninggal, bintang musik gres berusaha untuk membawa kembali musik. Musik Kamboja telah mendapat banyak dampak dari budaya Barat.

Musik tradisional Kamboja biasanya terdengar ketika perayaan di pagoda, ketika mengadakan suatu ritual, atau sebagai musik teater. Musik ini dibunyikan oleh beberapa alat ibarat roneat ek (silofon utama), roneat thung (seruling), kong vong touch dan kong vong thom (gong kecil dan besar), sampho (gendang), skor thom (dua drum besar), dan sralai.

7.3. Tarian di Kamboja

Tari di Kamboja sanggup dibagi menjadi tiga kategori utama: tarian klasik, tarian daerah, dan tarian tidak resmi.

Tarian klasik Khmer ialah bentuk tarian Kamboja yang hanya dipertunjukan untuk kerajaan. Tarian ini mempunyai banyak elemen dari tarian klasik Thai. Pada pertengahan masa ke-20, tarian ini dipertunjukan kepada publik dimana ini menjadi simbol dari kebudayaan Khmer. Dan dipertunjukan ketika ada kegiatan publik, liburan, dan untuk wisatawan yang berkunjung ke Kamboja. Tarian klasik dikenal akan penggunaan tangan dan kaki untuk mengekspresikan emosinya dimana terdapat sekitar 4.000 gerakan berbeda pada tarian ini. Tarian ini dikenal menjadi The Royal Ballet of Cambodia (Tari Balet Kerajaan Kamboja) sesudah ditetapkan menjadi warisan budaya UNESCO pada tahun 1960-an. Cerita Ramayana memberi dampak berpengaruh terhadap tarian klasik Khmer dilihat dari gerakan dan alur cerita.

Tari Apsara ialah tarian Khmer yang masih ada semenjak era Angkor. Tarian ini menarik wisatawan dan menciptakan budaya Khmer dikenal dunia. Tarian Apsara dipromosikan oleh Norodom Buppha Devi dan menjadi salah satu simbol dari Kamboja.

Tarian tempat Khmer mempunyai gerakan yang tidak seanggun tarian klasik Khmer. Penari mengenakan busana yang sesuai dengan yang ia perankan ibarat Chams, kepala suku, petani, dan petani miskin. Tarian ini diiringi oleh musik yang dimainkan oleh orkestra mahori.

Tarian tidak resmi Kamboja (atau tarian sosial) ditarikan ketika program sosial. Macam-macam tariannya termasuk Romvong, Rom Kbach, Rom Saravan, dan Lam Leav. Beberapa dari tarian tersebut mendapat banyak dampak dari tarian tradisional Laos. Tari Rom Kbach mendapat banyak dampak dari tarian klasik kerajaan. Tarian lainnya yang mendapat dampak dari globalisasi ialah Cha-Cha, Bolero, dan Madison.

7.4. Sastra di Kamboja

Tulisan sastra pertama ialah dibentuk pada masa Kerajaan Khmer. Biasanya goresan pena tersebut berisi perihal keturunan kerajaan, hukum keagamaan, penaklukan wilayah, dan organisasi internal dalam kerajaan.

Dokumen Khmer tertua ialah terjemahan dan ulasan teks Pali Buddhist pada Tripitaka. Dokumen tersebut ditulis oleh bhiksu pada daum palem dan tersimpan di biara.

Reamker (Bahasa Khmer: Kemashuran Rama) ialah versi Kamboja dari Ramayana, sebuah epos India yang sangat terkenal. Reamker tersusun dalam bentuk puisi dan tahapan kisahnya diubahsuaikan dari gerakan tari yang ditarikan oleh seniman Khmer. Reamker sering diubahsuaikan ke dalam teater tradisional Kamboja.

Kamboja kaya akan karya sastra lisan. Terdapat banyak legenda, kisah, dan lagu yang ada semenjak jaman dulu dan tidak pernah ditulis hingga kedatangan bangsa Eropa. Salah satu kisah yang terkenal ialah kisah perihal Vorvong dan Sorvong (Vorvong dan Saurivong), sebuah kisah perihal dua pangeran Khmer yang pertama kali dijadikan dalam bentuk goresan pena oleh Auguste Pavie. Warga Perancis ini mengklaim bahwa ia mendapat kisah ini dari Paman Nip di Distrik Somrontong. Pada tahun 2006, kisah Vorvong dan Sorvong diadopsikan ke dalam bentuk tarian oleh Balet Kerajaan Kamboja.

Tum Teav, yang bisa dibandingkan dengan kisah Romeo dan Juliet, ialah kisah yang paling terkenal, menurut dari puisi yang pertama kali ditulis oleh biarawan Khmer berjulukan Sam. Kisah cinta tragis ini disetting pada era Lovek. Cerita ini diceritakan diseluruh Kamboja semenjak pertengahan masa ke-19. Cerita ini telah diadopsi dalam banyak bentuk ibarat lisan, sejarah, literatur, teater, dan bahkan film. Tum Teav juga berperan dalam pendidikan di Kamboja, misalnya ialah sebagai materi ujian bahasa Khmer di kelas 12. Terjemahan menjadi bahasa Perancis pertama kali dilakukan oleh Étienne Aymonier pada tahun 1880. Tum Teav terkenal di luar negeri ketika penulis George Chigas menerjemahkan versi sastranya yang ditulis pada tahun 1915 oleh biarawan Buddha terhormat Preah Botumthera Som atau Patumatthera Som, yang juga dikenal sebagai Som, salah satu penulis dalam bahasa Khmer yang terbaik.

Beberapa anggota keluarga Kerajaan Khmer yang berbakat ibarat Raja Ang Duong (1841-1860) dan Raja Thommaracha II (1629-1634) telah menghasilkan karya sastra yang bagus. Raja Thomaracha menulis puisi untuk orang Kamboja yang lebih muda. Raja Ang Duong dikenal dengan novelnya yang berjudul Kakey yang terinspirasi oleh kisah Jataka perihal seorang perempuan yang tidak setia. Kini, Kakey biasanya dipakai sebagai media pendidikan untuk mengajarkan gadis Khmer perihal pentingnya kesetiaan.

7.5. Teater Bayangan (Wayang) di Kamboja

Pewayangan di Kamboja biasa disebut Nang Sbek atau Lakhaon Nang Sbek. Nang Sbek ibarat degan Nang Yai di Thailand, Wayang di Malaysia dan Indonesia khususnya yang berada di pulau Jawa dan Bali. Nang Sbek mungkin berasal dari Indonesia atau Malaysia semenjak berabad-abad yang lalu. Seni ini mulai memudar seiring perkembangan hiburan modern. Sebelum ada film, video, dan televisi, warga Khmer sering menikmati pertunjukan wayang ini. Terdapat tiga macam teater bayangan di Kamboja:

  1. Nang Sbek Thom ialah seni yang melibatkan mimik, musik sebagai pengiring tarian, dan narasi.
  2. Nang Sbek Toch yang juga disebut Nang Kalum dan sesekali disebut Ayang. Menggunakan wayang yang lebih kecil dengan ruang lingkup kisah yang lebih luas.
  3. Sbek Paor menggunakan wayang yang berwarna.

7.6. Film di Kamboja

Sinema di Kamboja dimulai semenjak tahun 1950-an. Raja Norodon Sihanok sendiri merupakan “pecandu” film. Banyak film yang ditayangkan di bioskop diseluruh negara pada tahun 1960-an. Setelah rezim Khmer Rouge berakhir, perkembangan industri film di Kamboja melemah alasannya persaingan dari video dan televisi.

8. Olahraga di Kamboja

Olahraga berkembang pesat di Kamboja semenjak 30 tahun terakhir. Sepakbola dibawa ke Kamboja oleh orang Perancis dan menjadi terkenal di Kamboja. Terdapat beberapa seni bela diri ibarat bokator, pradal serey (tinju khas Khmer) dan gulat tradisional Khmer. Olahraga dari barat ibarat voli, binaraga, hoki, golf, dan baseball juga terkenal di Kamboja. Lomba balapan termasuk lomba boat tradisional dan lomba balap kerbau. Phnom Pehn National Olympic Stadium ialah stadion nasional dengan kapasitas 50.000 orang di Phnom Penh. Kamboja pertama kali mengikuti olimpiade pada tahun 1956 dengan mengirimkan beberapa penunggang kuda. Kamboja juga pernah menjadi tuan rumah GANEFO pada tahun 1960-an. GANEFO ialah ajang olahraga internasional yang diciptakan Indonesia untuk memboikot Olimpiade. Di Kamboja diadakan Festival Bonn OmTeuk, yaitu bazar balap bahtera nasional yang diadakan setiap bulan November.


Sumber:

Judul

Alamat

1. Cambodia https://ilmugurubiologi.blogspot.com//search?q=kamboja-artikel-lengkap" target="_blank">Tetap Semangat! | Materi Pelajaran

0 Response to "Budaya Di Kamboja (Artikel Lengkap)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel